Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang.
Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat. Pembeli berteriak: “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24 ?”
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi”.
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan”.
Yan Hui: “Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?”
Pembeli kain: “Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”
Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu”.
Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat .”Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?” Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya,”Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai.”
Cinta tidak harus memiliki, sebuah kata-kata indah yang sering terdengar oleh telinga kita. Namun, bila kita telah mengalami cinta itu, bisakah kita melepasnya karena kita berpikir cinta itu tidak harus memiliki, asalkan orang yang kita cintai itu bahagia maka kita juga ikut bahagia. Kenyataan di lapangan, tidak mudah melepaskan seseorang yang kita cintai. Asalkan orang yang kita cintai bahagia, kita juga ikut bahagia, benarkah ini? Mungkin memang benar tapi apakah bahagia lagi yang kita rasakan apabila orang yang kita cintai itu asik dengan orang lain? Jawabanya akan menjadi sakit hati.
Hidup bukanlah hal yang mudah. Semua penuh perjuangan. Demikianlah kesetiaan setiap orang. Bagaimana hubungan bisa dipertahankan. Semua itu penuh perjuangan yang sangat besar. Terkadang kita mencintai orang yang tidak mencintai kita. Terkadang kita sudah mencintai orang yang tepat namun hal ini tidak selalu menjamin untuk mendapatkan ending yang bahagia. Dalam menjalin sebuah hubungan, kita tentunya ingin mendapatkan ending yang indah seperti yang ada dalam film-film dan dongeng-dongeng yang ada di televisi. Namun, hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan kita.
Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang.
Recent Comments